Pengalaman Pertama Pakai BPJS

Setelah berulangkali didesak suami, akhirnya aku memberanikan diri untuk melakukan perawatan gigi menggunakan BPJS. Tadinya, aku pura-pura gak dengar aja tiap kali suamiku ceramah panjang lebar supaya segera melanjutkan perawatan gigiku yang berlubang. Yang membuat aku pura-pura gak dengar, bukan karena malas perawatan gigi loh, yah. Seperti yang pernah aku tulis dan share di blog ini, perawatan gigi termasuk perawatan yang rutin aku lakukan. Penyebabnya semata karena kalau pakai BPJS harus ke puskesmas dan aku sudah hampir 14 tahun gak pernah ke puskesmas lagi karena ada pengalaman yang kurang menyenangkan. Kebetulan faskes 1 yang kami pilih untuk keanggotaan BPJS keluarga adalah puskesmas yang letaknya gak terlalu jauh dari rumah.

Perawatan gigi secara rutin biasanya kulakukan di klinik gigi kerabat suamiku. Tapi tempatnya jauh dan beberapa kali bikin janji, waktunya gak sesuai terus, makanya perawatan gigiku yang berlubang ini jadi terbengkalai. Awalnya aku tenang-tenang saja karena gak ada keluhan. Namun beberapa minggu yang lalu, gigi berlubang yang baru ditambal sementara itu, gusinya bengkak dan sakit. Setelah bengkak dan sakitnya hilang, mengunyah makanan jadi gak nyaman. 

Kemarin, diantar suami, aku pergi ke puskesmas tersebut. Duh, begitu masuk halamannya saja dan melihat antrian yang mengular, perutku langsung mulas. Kenangan buruk pelayanan puskesmas 14 tahun yang lalu juga bikin hati ketar-ketir. Tapi kalau aku gak mencoba, bisa-bisa diceramahin lagi di rumah. Hehehe. Suami juga berjanji, kalau pelayanan di puskesmas ini membuat aku gak nyaman, beliau akan mengurus pindah faskes ke tempat lain yang lebih nyaman buatku. Oke, sip!

Ternyata budaya antri di puskesmas ini gak berlaku. Memang ada nomor antrian yang digantung di sebelah loket pendaftaran dan wajib diambil sebelum melakukan proses pendaftaran. Tapi ternyata nomor antrian itu untuk antrian pemeriksaan masing-masing poli, bukan nomor antrian pendaftaran. Ketika mendaftar, ya, desak-desakan, nyelak-nyelakan deh. Hadeeeh! Setelah berulangkali didorong dan diserobot dari belakang, gak ada cara lain selain mengeluarkan jurus PD dan menyetel volume pita suara sedikit lebih tinggi dari biasanya :)))

"Mau daftar poli gigi, Pak."
"Sudah ambil nomornya, Bu?"
"Nomornya sudah gak ada, Pak."
"Besok lagi kalau begitu, Bu. Nomornya sudah habis."

Padahal waktu baru menunjukkan pukul 9 pagi.

"Pendaftarannya buka jam berapa, Pak?"
"Jam 8, Bu. Ambil nomornya lebih pagi, ya, kalau tidak mau kehabisan."
"Jam berapa boleh ambil nomor, Pak?"
"Jam 6 pagi juga sudah ramai, Bu, yang ambil antrian."

Hah? 

Tadi pagi, selepas sholat Shubuh, suamiku langsung pergi keluar. Kupikir mau ke pasar mencari bahan untuk membuat pakan ikan lele. Ternyata, pulang-pulang membawa nomor antrian poli gigi. Nomor 2! Katanya, nomor antrian 1 dan 3 sudah gak ada. Padahal waktu baru menunjukkan pukul 5.30 pagi :))))

Rupanya memang gak ada cara lain untuk berkelit dari suamiku, ya? :D Tetap harus mencoba perawatan gigi di puskesmas. Sayang BPJS-nya, kata suamiku. Karena memang sejak dibuat, belum pernah dipakai sama sekali. Beliau bilang, sekalian mengetes juga pelayanan kesehatan menggunakan BPJS, apakah benar-benar bisa dirasakan manfaatnya atau menjadi pembuktian dari keluhan para pengguna BPJS yang tidak puas dengan pelayanan menggunakan BPJS.

Seperti biasa di loket pendaftaran puskesmas ini, gak ada sistem antrian. Tapi ternyata gak ribet. Cukup menunjukkan kartu BPJS, kemudian petugas mengecek keanggotaan kita melalui laptopnya. Setelah dicek, diminta mengisi formulir khusus pasien BPJS. Itupun hanya menulis nama, nomor peserta dan paraf. Lalu tinggal menunggu dipanggil dokter.

Oke, sekarang tinggal menunggu the moment of truth-nya. Terus terang saja, selama 14 tahun aku gak mau lagi ke puskesmas setelah mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari dokter puskesmas dan petugasnya ketika membawa anakku sakit dan butuh pertolongan segera. Kalau masalah dijudesin, rasanya di rumah sakit-rumah sakit besar pun adakalanya kita bertemu dengan petugas kesehatan yang judes, jadi biasa aja. Tapi kalau diabaikan dalam masalah pelayanan kesehatan, apalagi untuk alasan sepele dan gak penting, ya, cukup tau aja dan gak mau lagi datang ke situ. 

Sambil menunggu panggilan, aku mengobrol dengan beberapa ibu yang juga akan ke poli gigi, bertanya mengenai kebiasaan-kebiasaan di puskesmas ini. Dari cerita ibu-ibu itu, sepertinya, sih, pelayanan di puskesmas ini cukup baik, tidak seperti puskesmas di tempat tinggalku yang dulu. Kemudian aku melihat seorang bapak tua, pemegang nomor antrian 1, tampak sumringah dan akrab dengan dokter gigi ketika namanya dipanggil. Rupanya dia pasien tetap di situ. Pelan-pelan kekhawatiranku mencair.

Tentu saja kita gak bisa membandingkan pelayanan kesehatan yang kita dapat di puskesmas dengan rumah sakit besar. Terutama soal fasilitas. Satu-satunya yang bisa diharapkan (mungkin) attitude dari para petugas kesehatannya, karena dimanapun mereka berada, tujuannya sama, kan? Melayani masyarakat :)

Alhamdulillah, petugas kesehatan di puskesmas ini baik dan ramah. Mereka melayani setiap pertanyaan pasien. Bahkan ketika aku sudah siap di kursi tindakan, seorang bapak tiba-tiba nyelonong masuk bersama anaknya yang masih kecil, tetap dilayani dan dibantu. 

Dokter gigi yang menangani aku, sabar banget menjelaskan tahapan pemeriksaan dan perawatan gigiku yang bermasalah. Tambalan sementaranya dibongkar, kemudian ditambal lagi untuk sementara, baru minggu depan ditambal permanen. Prosedur pemeriksaan dan perawatan gak jauh beda dengan prosedur perawatan yang biasanya aku jalani. Cuma harus menyesuaikan sedikit karena terbatasnya fasilitas. Misalnya, gak ada asisten dokter dan alat hisap air liur, jadi sebentar-sebentar mesti buang liur sendiri. Buat aku yang biasa perawatan di klinik gigi dengan fasilitas lengkap, ketidaknyamanan kayak gitu menganggu banget, sih. Bikin pengen pindah ke faskes lain yang lebih memadai fasilitasnya. Kayaknya, sih, minggu depan mesti bawa botol air sendiri untuk kumur dan saputangan atau tisu sendiri juga. Hehehe. Setelah selesai, dikasih resep dan tinggal ambil obatnya. So, pengalaman pertama pakai BPJS ini gak ada komplain lah ya, terutama untuk urusan administrasi dan layanan dari petugas kesehatannya. Semoga seterusnya begitu :)

Tips dari aku, nih, kalau mau menggunakan BPJS untuk pertama kali:

  • Cari tau prosedur menggunakan BPJS, terutama di faskes yang akan kita datangi. Bisa browsing di internet atau bertanya kepada tetangga/kerabat yang pernah ke faskes tersebut, biar gak katrok dan emosian kalau menemui kendala administrasi. Sebenarnya perlu pembenahan juga, nih, dari pemerintah mengenai sosialisasi prosedur penggunaan BPJS ini. Dari pengamatan di lapangan, ceile, ternyata masih banyak masyarakat yang minim bahkan buta informasi layanan medis seperti apa yang bisa dicover BPJS. Aku aja yang rajin cari info, masih banyak gak pahamnya :)
  • Siapkan semua dokumen yang diperlukan. Jangan sampai udah sampai faskes, ada persyaratan yang ketinggalan. Balik lagi, deh.
  • Datang pagi supaya gak perlu antri lama-lama :D
  • Bersosialisasi. Cari tau kebiasaan dan fasilitas yang ada di faskes tersebut. Tiap faskes pasti beda kebiasaannya, beda fasilitas. Jangan berharap, memaksa, apalagi menuntut fasilitas sama seperti yang biasa didapat di faskes lain. Yang perlu dikritisi, attitude petugas kesehatannya saja ketika melayani pasien, bukan fasilitas faskes. 
  • Yang terakhir, ini sih bukan tips pakai BPJS untuk pertama kalinya, sih. Tapi penting juga untuk diterapkan :D Ucapkan terima kasih dan kasih senyum manis kalau sudah selesai dilayani. Semoga bisa mencerahkan hari dan hati para petugas kesehatan. Yang ramah dan baik hati semakin semangat dan bertambah keikhlasannya saat melayani masyarakat. Yang judes dan gak sabaran jadi melunak dan gak tegang lagi ^_^


38 comments

  1. Jadi langsung ingat PR ke dokter gigi nih aq, banyak lubang2 kecil ternyata waktu di cek di acara sabtu krmarin di Gandaria City -__-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gigi berlubang jangan dibiarin, Coel, bisa jadi sumber penyakit :)

      Delete
  2. Tengkiu tipsnya ya mak..
    Rncana mau bikin jg...
    :D

    ReplyDelete
  3. Sudah 1 bulan ini pakai bppjs dengan fakes di klinik. Alhamdulillah sih lancar2 saja Mak. Tinggal tunjukin kartu dan antri. Ini pengen coba untuk pemeriksaan gigi dan penggantian kacamata.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin yang lama kalau pake BPJS untuk rujukan, ya? Prosedurnya lebih banyak. Untuk faskes 1, solusinya pinter2 pilih faskes aja hehehe

      Delete
  4. Kalau untuk faskes tingkat pertama memang bisa langsung mak, tapi untuk ke rmah saki memang butuh rujukan karena hanya penyakit yang tidak bisa ditangani oleh dokter fktp yang bisa dirujuk. Tapi kebanyaan masyarakat maunya langsung ke rs, nah giliran fktp ga ngasih rujukan malah marah2. Sebenarnya banyak hal yang harus diperbaiki memang mak, mulai dari sistem pelayanan, pola pikir masyarakat, dll.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Marah-marahnya kemungkinan karena panik, khawatir, namanya juga sakit, ditambah minimnya informasi prosedur BPJS. Semoga diperbaiki terus sistemnya, ya, supaya masyarakat benar2 merasakan manfaatnya.

      Delete
  5. Wah, info bagus nih mak untuk saya yang mau bikin BPJS. Semakin mantab.

    ReplyDelete
  6. Eh, beberapa minggu yang lalu aku juga abis cabut gigi gitu pake BPJS. Eh ciyus nih gak bayar sama sekali? Aku bengong >,<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi sebenernya ya bayar juga iuran sebulan sekali. Tapi karena iurannya gak sebesar asuransi swasta dan gak pake sistem reimburse, jadi rasanya kayak berobat gratis, ya? :D

      Delete
  7. wkwkwkwkwk....jangam lupa bawa botol air minum xD
    semoga cepet sembuh giginya mba

    ReplyDelete
  8. wah penasaran pingin daftar bpjs karena ke dokter swasta mahal. Ke rumah sakit swasta juga ngantri, harus datang pagi dan bayarnya lumayan mahal walau lebih murah drpd dokter swasta

    ReplyDelete
    Replies
    1. Daftar aja, mudah koq, bisa online. Gak perlu datang ke kantor BPJS-nya :)

      Delete
  9. nice info mak
    @guru5seni8
    http://hatidanpikiranjernih.blogspot.com

    ReplyDelete
  10. Aku tuh langganan sejak masih bernama jamsostek trus berubah jadi bpjs. Selama ini gak ada masalah berat, memuaskan dan ramah juga pelayanan tenaga medisnya. Udah nyoba dari faskes tk I sampe III. Ngebantu banget deh.

    Oiya cepet sembuh ya mbah sakit giginya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, senangnya, ya, kalau bisa merasakan banyak manfaatnya. Aku blm nyoba faskes lanjutannya, tp sedikit2 udah tau prosedurnya mesti ngapain. Semoga sih, sehat terus, gak perlu nyobain faskes lanjutan segala :D

      Aamiin, makasih doanya :)

      Delete
  11. Aku lebih memilih klinik untuk faskes tingkat satu mak, selain lebih dekat dengan rumah, antrian ga sebanyak puskesmas, dan fasilitas kebetulan lebih memadai dibanding puskesmas yang deket. Alhamdulillah kesanku baik lah sejauh ini untuk berobat jalan pake BPJS

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, nih, aku juga pengen pindah faskes. Dulu pas daftar, kan, masih culun gitu, jadi asal pilih aja yang dekat sama rumah :)

      Delete
  12. Mksh tips nya makte... katanya bpjs ini memang byk manfaatnya. Tetanggaku saja operasi kanker dan khemo lwt bpjs. Alhamdulillah ada program ini ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, teman suamiku juga baru saja ada bypass jantung, katanya pakai BPJS juga :)

      Delete
  13. Ternyata bisa buat berobat ke dokter gigi ya mak

    ReplyDelete
  14. Aku belum punya bpjs, rencana mau buat juga :) Kalo di dokter gigi ada sedot air liur ya mak, aku dulu nggak pake itu, jadi bentar2 suruh kumur sendiri, kalo tissue disediain :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku malah baru kali ini ke dokter gigi yang gak ada fasilitas sedot liurnya, jadi gk nyaman banget rasanya :D

      Bikin aja BPJS-nya, banyak manfaatnya koq. Asal tau prosedur dengan baik, aku rasa gak terlalu sulit pas dipakai, asal sabar antri aja karena pasienny banyak :)

      Delete
  15. hmmm... aku jg blm prnh pake bpjs sih mba... punya kartunya krn kan semua perusahaan swasta kalo ga salah udh wajib punya ini. Tapi kantorku ttp ada benefit asuransi kesehatan sendiri. Ya krn benefitnya jauh lbh bgs dan nyaman, udah deh si BPJS terlupakan.. abisnya ngebayangin desak2an dan harus dtg jam 6 malah ada rs yg dtg dr jam 5 untuk ambil nomor -__- .ini diceritain ama temannya papa yg udh sepuh...ga tega gitu bayangin mrk hrs pagi2 buta abis subuh kesana.. yg ada aku jd emoh mw pake bpjs

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener, aku juga baru kali ini ngalamin harus ngambil nomor antrian jam setngah 6 pagi :D
      Meskipun masih banyak ketidaknyamanan, tapi BPJS banyak membantu masyarakat yg selama ini sulit mendapat hak sehat karena mahalnya biaya pengobatan loh. Sosialisasiny yang kayaknya masih kurang, terutama soal prosedur. Namanya orang sakit, bawaannya kan cemas dan panik, maunya langsung ditangani saja. Apalagi kl ketemunya petugas kesehatan yang kurang ramah

      Delete
  16. Haduh soal gigi selalu bikin ciut wkwk

    ReplyDelete
  17. Hahaaa aku mau juga ah ke poligigi. Dah bolong besar kali. Tp kartu BPJSnya belum bikin2. Kemarin mau bikin online, tapi masih ada nama kakakku yg almarhumah. Yg kyk gini harus datang ke kantornya membawa surat kematian dr kelurahan supaya nggak dimasukkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bikin BPJS online gampang koq, ntar e-ID nya juga tinggal ngeprint sendiri yang cakep. Diurus dulu aja surat kematiannya, Mah. Koq tahan sih, gigi bolong dibiarin? Gak atit apa pas makan? *_*

      Delete
    2. Kan yg bolong pojok kanan. Masih bisa makan pake pojok kiri asal nggak nylonong ke kanan. Alesyan, padahal males, eh takut ke dibor.

      Delete
  18. Aku juga belum dipake nih BPJSnya, rencananya besok2 mau coba pake :) Pengalaman orang pake BPJS memang beda-beda ya mak, ada yang oke2 aja, ada juga yang jadi keluhan :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tergantung keadaan yang dihadapi dan info yang diketahui penggunanya ;)

      Delete

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)

Recommended Post