Cerita Reiga (part 1): Muntah-Muntah, Dirawat dan Vonis Dokter

5 bulan yang lalu, Reiga sakit. Pada suatu pagi, tiba-tiba saja Reiga muntah-muntah hebat. Makan, muntah. Minum, muntah. Nenen, muntah. Gak ngapa-ngapain, muntah. Sorenya aku bawa ke IGD, kondisinya membaik selama 2 hari. Tapi dia kelihatan kurus dan kecil. Pipi tembam dan dagu berlipatnya menghilang. Dokter bilang, kalau dalam beberapa hari Reiga muntah-muntah lagi, langsung bawa lagi ke dokter dan cek darah.

Hari keempat, Reiga muntah-muntah lagi. Untungnya kali itu papinya ada di rumah.  Aku jadi sedikit tenang. Waktu sebelumnya, suamiku sedang tugas di luar kota. Aku ke IGD sendirian. Sekuriti rumah sakit yang baik membantuku mendaftarkan Reiga ke bagian pendaftaran sementara aku menemani Reiga di IGD. 

Dokter langsung memutuskan Reiga harus dirawat karena sudah dehidrasi. Sedihnya hati ini melihat bayi kami diinfus. Untungnya Reiga tidak rewel. Selama dirawat pun dia termasuk anteng. 




Hasil tes darah semuanya normal. Tidak ada infeksi bakteri, virus atau penyakit lain. Hanya saja hemoglobinnya rendah, jadi treatment dari dokter hanya untuk memulihkan staminanya dan menaikkan HB saja.

Setelah muntah-muntah dan dirawat itu, berat badannya menyusut cepat sekali. Sampai dia kelihatan kurus dan kecil banget. Sedihlah. Sementara kakak-kakaknya dulu waktu seumurnya, montok-montok semua.

Setiap 2 minggu sekali, Reiga harus cek darah. Gak tega lihat bayi kecil disuntik dan diambil darah terus. Alhamdulillah, HB Reiga berangsur naik. Reiga juga mulai pulih. Berat badannya pelan-pelan bertambah lagi. Aku dan papinya semakin lega dan sangat berharap Reiga kembali pulih

Tapi ternyata, perjuangan Reiga belum selesai.

Hari itu seharusnya jadi kontrol terakhir Reiga ke dr H. Dokter senang melihat perkembangan Reiga yang bagus. Aku juga bahagia karena perjuanganku dan papinya untuk memulihkan stamina dan berat badannya Reiga selama 1.5 bulan menunjukkan hasil positif. Saat pemeriksaan dengan stetoskopnya dan lain-lain, dr H santai saja sambil becanda-becanda dengan Reiga. Tiba-tiba wajahnya berubah jadi serius dan aku mulai khawatir. Apa lagi nih?

Dokter H bilang, dia mendengar suara bising dari jantungnya Reiga. Kalau ada suara bising, tandanya ada masalah. Bisa jadi jantungnya bocor. Duh, hatiku langsung mencelos. Rasanya mau nangis tapi kutahan. Suamiku juga bengong. Dr H langsung merujuk Reiga ke dokter spesialis jantung anak di rumah sakit yang lain. Katanya dokter ini dokter spesialis jantung anak yang paling ahli. 

Aku ingat betul, hari itu, aku dan suami terdiam sepanjang perjalanan pulang. Bayi kami divonis punya penyakit jantung bawaan. Sungguh bukan berita menyenangkan. 

(bersambung)




15 comments

  1. Thank you for sharing your info. I truly appreciate your efforts and I am waiting for your next write
    ups thank you once again.

    ReplyDelete
  2. Wow! This blog looks exactly like my old one! It's on a totally different subject but
    it has pretty much the same layout and design. Great
    choice of colors!

    ReplyDelete
  3. This is my first time go to see at here and i am
    in fact pleassant to read all at one place.

    ReplyDelete
  4. Sabar y mba mudah2an Reiga sehat2 ditunggu cerita selanjutnya, aku jg waktu anakku masuk rumkit sangat2 sedih semua campur aduk apalagi ini dg vonis yang bikin down ybmb ttp optimis dan sll sabar mba

    ReplyDelete
  5. rasanya suka sedih ya kalau anak sakit

    ReplyDelete
  6. aku menunggu lanjutannya mbaaa.. semoga reiga tetap sehat2 & jantungnya ngga ada kendala apapun yaaa.. aamiin

    ReplyDelete
  7. Aku masih inget rasanya pas suami Dan aku dibilangin dokter vonis itu, 2 hari setelah adek lahir. Sabar mbak, semoga dapat diatasi dengan baik kondisi Reiga ya.

    ReplyDelete
  8. Reigaa, sehat terus ya anak ganteng <3

    ReplyDelete
  9. Semoga Reiga semakin sehat. Mak Sary dan keluarga terus diberi kesabaran. Aamiin

    ReplyDelete
  10. Semoga Reiga cepat sembuh mba. Kakaknya temanku pernah mengalami jantung bocor, alhamdulillah dapat sembuh. Semangat terus mba, walau sejujurnya kalau aku diposisi mba pasti berat banget.

    ReplyDelete

Hai!
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan-tulisan di blog ini.
Silakan meninggalkan komentar dengan bahasa yang baik, asyik, dan sopan.
Komentar dimoderasi. Komentar anonim dan link hidup dalam komentar, mohon maaf, akan dihapus.
Salam hangat! :)